Pages

Kematian dan Spekulasi Hukum Tuhan



sedikit cerita, pengalaman merenung pada Minggu dini hari.
8 April, jam 1. 19 tahun lalu ibu saya, atas maunya menempatkan diri pada sebuah ambang batas antara hidup dan mati: Melahirkan saya.



Saya gak tau apa gerangan yang membikin saya bangun pada jam-jam larut begini, ini semua bukan dalam rangka Hari Besar ini. saya yakin bukan. paling tidak bukan sesuatu yang saya senaja.
sekedar informasi, kadang saya memang terbangun ditengah-tengah tidur pulas (bahasa kerennya ‘nglilir’) entah itu karena mimpi kepleset atau dikagetin. Well, kalau biasanya saya terbangun dengan kondisi frustasi lengkap dengan bentuk mata yang tinggal segaris tipis saking kiyip-kiyip nya, kali ini tidak begitu.
Ya, ini anomali. Gaya saya bangkit dari kasur jauh dari kesan orang habis bangun tidur. Saya segar-segar saja, gak ngantuk, gak sepet. Yah,sebenarnya sesuatu yang diluar kebiasaan gini selalu membuat saya gak nyaman. Buru-buru berdoa dulu, bolehlah disebut besok hari bersejarah jadi rasanya tidak lucu kalau dilalui dengan kesialan.
Saya bingung mau ngapain. Celingukan memandangi setiap sudut ruang yang atas hasrat pribadi, tampak warna biru mendominasi. lamat-lamat saya putuskan untuk menghampiri laptop di meja belajar, menjamahnya dengan penuh sayang.. *lhaah..
Agak bernuansa curhat, belakangan saya kepikiran hal-hal yang gak enak. Asli. Gak tau tepatnya sejak kapan, sedikit saja sentilan dapat mengarah pada pikiran-pikiran aneh. Jujur, kalau boleh milih saya lebih seneng jadi orang yang..yaah..katakanlah tumpul. Saya tipikal yang gak seneng tahu apa yang seharusnya gak saya tahu. Karena begitu tahu sesuatu, ada perasaan dari dalam yang mendesak saya untuk lebih mencari tahu. Selanjutnya? sebagai orang labil yang dikuasai keingintahuan berlebih, saya rawan terjerumus dalam kesesatan, begitu kata Bapak. Saya setuju.
Misalnya saja tentang..err.. kematian?
Oke2, ini mulai seram. Tapi saya memang takut pada kematian. Atas berbagai alasan, layaknya manusia banyak dosa, sebisa mungkin saya memohon agar dijauhkan dulu dari kematian. Dalam hal ini bukan hanya kematian saya saja, melainkan orang-orang yang saya cintai..
Ya Allah, jangan matiin saya dulu.
Ya Allah saya mau umur panjang.
Juga Orangtua..Kakek-nenek..
Adik, kakak.. semuanya!
Saya gak mau meninggalkan maupun ditinggalkan.
Beri saya waktu untuk membahagiakan para pelahir saya Ya Allah.
Beri waktu untuk cita-cita yang terlanjur menggunung ini..
Juga tentang materi..
Untuk kemudian merajut institusi sakral bernama pernikahan..
Anak-anak lucu yang tumbuh sehat dan cerdas..
Cucu yang menggemaskan..

plis, hari ini ulangtahunmu, bisa-bisanya berkubang dalam gelapnya mortalitas disaat seharusnya mengharu-biru dalam romantisme kenangan kelahiran yang benderang.
tapi bagitulah adanya, apa yang sungguh terbersit dalam benak saya.
bukan tak mensyukuri keberkahan-Nya hinggaa saya dengan leluasa dan sentosa melenggang menapaki dunia, alih-alih euforia hari jadi, saya kian terjebak dengan pergulatan bahwa tak ada yang namanya hidup kalau tak dipungkasi dengan mati. saya..takut. kematian membuat saya beringsut.

 setiap harinya (saya yakin) Tuhan mendengar doa saya –dan juga orang lain perihal beragam jenis permintaan. Saya juga percaya Tuhan mengabulkan segala doa yang dipanjatkan padaNya, tapi berdasarkan secuil pengetahuan yang saya dapat mengenai seluk beluk agama, seperti halnya kelahiran, pernikahan, bukankah kematian telah digariskan sedemikian adanya? Seandainya pun kita berdoa dan memang sesuai asmaNya bahwa Tuhan Maha Kuasa serta Berkehendak atas mauNya, akankah Dia menyalahi aturannya sendiri? Akankah Allah, untuk hamba paling taat sekalipun bersedia membikin pengecualian, sesekali?

Dan sia-sia kah doa saya selama ini?
Sungguh saya bukan seorang yang berpaham sekuler. Saya hanya orang awam yang butuh penjelasan dalam rangka  ikhtiar menjauhi kesesatan..

Tuhan, jika pengecualian itu dimungkinkan, hari ini, di hari bersejarah bagi eksistensiku di dunia ini, ijinkan aku memanjatkan doa-doa itu sekali lagi. aku ingin berspekulasi, Engkau yang Maha mengabulkan segala pinta, tentu saja Maha Berkuasa atas hukum-hukumNya.
entah berapa lama lagi detak-detak jam itu berhenti kehabisan daya, entah berapa lama yang tersisa.... ijinkan aku hidup dalam barokah-Mu lebih lama.

sekali lagi, spekulasi.



















0 comments:

Post a Comment